Sabtu • 20 Desember 2014

MobilKomersial

Pionir Kendaraan Berat & Mesin Diesel

Februari 04
04:10 2013
Mobkom-Image-Pionir-Kendaraan-Berat-dan-Mesin-Diesel

Pionir Kendaraan Berat & Mesin Diesel

Hino Motors Ltd. merupakan salah satu pionir dalam memproduksi kendaraan besar seperti truk, bus, mesin diesel serta kendaraan berat lainnya. Nama Hino merupakan produsen truk terbesar di Jepang selain Isuzu, Nissan Diesel dan Mitsubishi. Jejak pabrikan truk yang berpusat di Tokyo dan merupakan bagian dari Toyota Motor Corporation (TMC) itu, di dunia kendaraan komersial dapat ditelusuri sejak tahun 1942 di Jepang.

Tahun 1942, Hino Heavy Industry Company Ltd. memisahkan diri dari Diesel Motor Industry yang merupakan cikal bakal Isuzu. Di penghujung perang dunia kedua, Hino menghilangkan kata “heavy” pada namanya, kemudian menambahkan kata “diesel” di tahun 1948 menjadi Hino Diesel Industry Co, Ltd. Dan semenjak tahun 1973, Hino sudah menjadi pemimpin dalam memroduksi truk medium dan heavy duty di Jepang.

Keberadaan Hino di Indonesia berawal di Desember 1982 dengan berdirinya PT Hino Indonesia Manufacturing, sebagai perusahaan joint venture antara Indomobil Group (40%), Hino Motors Ltd (30%) dan Sumitomo Corporation (30%) dengan modal 5 juta Dolar AS untuk memroduksi mesin kendaraan Hino. Pada Januari 1986 Hino memulai produksi mesin model H07C serta kabin dan rangka untuk kendaraannya. Memasuki tahun 90-an, Hino melebarkan sayapnya di Indonesia dengan memindahkan pabrik beserta kantor pusatnya dari Bekasi, Jabar ke Pulo Gadung, Jaktim pada Mei 1992.

Bulan April 1997 terjadi restruktrurisasi pada tubuh Hino dengan mengalihan divisi dari PT National Motor Company di bawah Indomobil Group, menjadi agen tunggal semua produk Hino di Indonesia dengan pembagian modal 51% dimiliki Indomobil, 39% dipunyai Hino Motors, Ltd. Dan sisanya dipegang oleh Sumitomo Corp. sebesar 10% serta meningkatkan modalnya menjadi 19.3 juta Dolar AS. Dan di bulan Juni 1997, dimulai pembangunan kontruksi pabrik baru di kawasan industri Kota Bukit Indah, Cikampek, Jabar yang menempati lahan seluas 120 ribu meter persegi.

Restrukturisasi kembali terjadi di tubuh Hino pada bulan April 2003. PT Hino Indonesia Manufacturing mendirikan PT Hino Motors Sales Indonesia dengan kepemilikan saham HINO Motors, Ltd 40%, Indomobil 40% dan Sumitiomo Corp 20% dengan modal 8 juta Dolar AS. Saat itu pula PT Hino Motors Manufacturing Indonesia terbentuk dengan kepemilikan saham sebesar 90% dimiliki Hino Motors Ltd., dan Indomobil sebesar 10 % ditambah peningkatan modal menjadi 48 juta Dolar AS.

Setelah memiliki pabrik baru, kiprah Hino sebagai produsen kendaraan komersial semakin diperhitungkan, dengan diluncurkannya varian bus model baru AK dan RK dengan mesin Euro-1 pada September 2003.
Pada 2007 Hino menerapkan standarisasi seluruh kendaraannya dengan mesin Euro-2 untuk truk dan bus termasuk bus berbahan bakar gas (CNG). Tahun 2010 Hino juga meningkatkan jumlah produksinya menjadi 30 varian kendaraan komersial, dengan memperluas pabrik baru yang mampu memroduksi 35 ribu unit kendaraan per tahun.

Oktober 2010, Hino Indonesia memerkenalkan varian terbarunya, Hino ZY1EWPD yang merupakan jenis truk heavy duty (kategori 5), yang dikhususkan untuk pasar pertambangan di Kalimantan. Di bulan Maret 2011, Hino Indonesia mulai mengekspor secara utuh varian Hino Dutro ke Vietnam. September 2011, Hino meningkatkan pusat suku cadangnya untuk menjamin ketersedian spare parts di seluruh wilayah Indonesia, yang mampu menampung 18 ribu item suku cadang termasuk membuka depo di Banjarmasin, Kalsel. (AGL)

Editor : Antonius Sulistyo

Share

Berita Terkait