Volvo Siap Hidupkan Kembali Performa di AS

Mobkom-Image-Volvo-Siap-Hidupkan-Kembali-Performa-di-AS
Mobkom-Image-Volvo-Siap-Hidupkan-Kembali-Performa-di-AS
Foto: PicGellery

Volvo kembali merilis strategi bisnis mereka. Hal tersebut dilakukan untuk menghidupkan kembali performa pabrikan otomotif ternama itu di Amerika Serikat (AS). Seperti diketahui, hampir satu dekade permintaan akan produk otomotif Volvo menyusut hingga dua kali lipat dari penjualan global mereka.

Rencananya, awal pekan depan mereka akan mensosialisasikan kebijakan-kebijakan teranyar yang telah disusun bersama dengan para pemilik dealer, menyangkut sistem pemasaran, pendistribusian dan promosi, hingga penerapan teknologi baru pada varian produksi mereka. Dari semuanya, yang paling ditunggu publik adalah rencana desain ulang varian crossover XC90, yang akan dikerjakan selama lima tahun, dengan menghabiskan investasi fantastis, 11 miliar dolar AS.

Diungkapkan CEO Volvo, Hakan Samuelsson, usaha mereka adalah terus memperjuangkan perubahan, sebagai bagian dari upaya untuk mengembalikan warisan kejayaan otomotif ala Swedia, sambil memposisikan Volvo sebagai  “merek premium yang unik”, yang dapat lebih bersaing dengan merek-merek premium lain.

Ditambahkan eksekutif berusia 62 tahun itu, pilar bisnis Volvo yang baru akan lebih mengoptimalkan desain ala Skandinavia pada mobil-mobil produksinya. Sementara, segi keamanan penumpang juga tetap menjadi prioritas utama. “Secara umum, Volvo berencana untuk meningkatkan volume produksi global, dari proyeksi awal sebesar 450 ribu unit per-tahun, menjadi sekitar 800 ribu unit sebelum tahun 2020,” ujar Samuelsson.

Lebih jauh diungkapkan Samuelsson, pihaknya memproyeksikan Cina akan melampaui Amerika Serikat sebagai pasar terbesar Volvo, dengan volume penjualan tahunan sebesar 200 ribu unit. Bahkan beberapa kendaraan buatan Cina nantinya dapat dikirim ke Amerika Serikat .

Dalam sebuah diskusi terbatas dengan para wartawan di Amerika Serikat, eksekutif Volvo mengaku tidak akan berkomitmen untuk meningkatkan penjualan di Negeri Paman Sam. Namun, pada perkembangan terakhir mereka mengakui masih berharap untuk mendapat kembali kejayaan seperti yang pernah mereka catatkan di tahun 2004. Para eksekutif tersebut juga mengaku frustasi mengatasi lemahnya penjualan di Amerika Serikat. (ATN)

Editor: Anton Ryadie

Tinggalkan Balasan