4 Cara Bagi Pengusaha Angkutan untuk “Mengakali” Kebijakan B20

Jakarta, MobilKomersial.com – Pemerintah Indonesia telah menerapkan regulasi baru mengenai pencampuran 20% biodiesel kedalam bahan bakar regular, atau yang dikenal dengan kebijakan B20. Namun hal ini masih menjadi perbincangan hangat bagi pengusaha yang menggunakan truk.

Kyatmaja Lookman, anggota Aptrindo mengatakan “B20 yang sebenarnya sekarang sudah mulai diterapkan sama Pemerintah. Suka tidak suka karena Perpresnya sudah ditandatangani dan mulai diimplementasi tanggal 1 September 2018. Terlepas dari segala keberatan yang sudah kita utarakan tetapi pemerintah tetap menjalankan kebijakan itu. Memang untuk kendaraan baru yang spesifikasinya sudah memenuhi B20 tidak akan ada masalah. Akan tetapi untuk yang belum, akan timbulkan berbagai permasalahan.”

Terus apa yang harus dilakukan?, Kyat menyarankan beberapa hal untuk menjaga performa truk tetap stabil. Berikut beberapa saran untuk mengikuti kebijakan B20 :

  1. Truk lama yang tidak dilengkapi oleh water separator segera dipasang water separatornya. Sifat biosolar yang mengikat air mengakibatkan air ini bisa tersedot ke ruang bakar. Maka untuk menghindari terjadinya kerusakan mesin bagi truk-truk yang belum ada water separator filternya harus segera dipasang. Vital sekali water separator untuk mencegah kerusakan mesin karena kondensasi ataupun oknum-oknum nakal yang mencampurkan air ke tanki.
  2. Bersihkan tanki BBM, karena biosolar punya sifat detergensi yang tinggi dan juga korosif yang akan membersihkan kotoran yang ada di dalam tangki. Tidak hanya tangki BBM tapi tangki SPBU tangki Induk dsb. Untuk tangki BBM akan diperlukan coating untuk mencegah korosi di tangki BBM.
  3. Cek Filter reguler di awal Oktober. Kotoran eks tangki berpotensi membuat filter tersumbat.
  4. Percepat frekuensi penggantian oli dan filter oli solar dsb. Jangan menggunakan frekuensi penggantian rutin tapi percepat, misalnya pada 20rb km, jadikan 15rb atau 10rb untuk mencegah terjadi Gel-ing di filter dan injector.

Sebagai pengusaha angkutan mungkin 4 hal tersebut yang bisa kita kerjakan untuk memitigasi dampak B20 ke kendaraan yang sudah ada.

“Investasi truk itu bukan investasi jangka pendek tetapi investasi jangka panjang. Di negara kita yang utilisasi truknya rendah 50rb km per tahun diperlukan 20 tahun untuk mencapai titik maksimalnya beda dengan negara lain yang utilisasinya tinggi. APM sendiri hanya bisa menjamin truk keluaran 2016 keatas sejak Perpres itu keluar.” Tutup Kyat.

Tinggalkan Balasan