Hino Sudah Ngetes Penggunaan Biosolar Sejak 3 Tahun Lalu di Truknya yang Bermesin Commorail

“Kami menghimbau kepada pemerintah untuk menyempurnakan proses pencampuran solar dan FAME agar meminimalisir efek samping yang ditimbulkan bagi kendaraan,” kata Santiko.

Hino Sudah Ngetes Penggunaan Biosolar Sejak 3 Tahun Lalu di Truknya yang Bermesin Commorail

Hino Sudah Ngetes Penggunaan Biosolar Sejak 3 Tahun Lalu di Truknya yang Bermesin Commorail

 

MobilKomersial.com – Sebelum Pemerintah resmi memberlakukan kewajiban distribusi bahan bakar biosolar B20 dengan 20 persen kandungan bakar nabati di Indonesia mulai bulan September 2018 ini, PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) sudah melakukan pengujian penggunaan bahan bakar ini pada truknya. Pengujian ini dilakukan Hino pada truk bermesin commonrail. Metode yang dipakai adalah engine bench test dan dilakukan di Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP-BPPT).

 

Direktur Sales dan Promosi PT HMSI Santiko Wardoyo mengatakan, pengujian terhadap mesin commonrail tersebut dilakukan selama 400 jam dengan beban penuh pada putaran mesin maksimum yaitu 2.500 rpm selama 8 jam/ hari. “Metode uji tersebut merupakan metode yang disarankan oleh prinsipal Hino di Jepang yaitu Hino Motors, Ltd. yang diklaim lebih memaksa mesin melakukan performa maksimal jika dibandingkan dengan road test atau kondisi pemakaian aktual di jalan,” ungkap Santiko dalam keterangan persnya.

 

Dari pengujian ini didapatkan hasil bahwa mesin Hino tidak ditemukan adanya fenomena yang membahayakan pada pengujian tersebut. Yang terjadi hanya ada penyumbatan filter bahan bakar yang diakibatkan oleh glicerol dan selulosa hasil blending bahan bakar kelapa sawit dan solar. Meski begitu, dengan kontrol dan perawatan yang benar akan dapat mencegah atau diminimalisir penyumbatan filter tersebut dan hasilnya mesin Hino telah lulus uji menggunakan bahan bakar biodiesel B20.

“Hasil pengujian terhadap mesin berteknologi common rail yang memperoleh hasil memuaskan tersebut, secara otomatis membuktikan bahwa penggunaan biodiesel B20 tidak akan berpengaruh terhadap mesin berteknologi mekanikal,” kata Santiko.

Oleh Hino, hasil pengujian tersebut kemudian dilaporkan ke Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM sebagai salah satu bentuk komitmen Hino dalam mendukung kebijakan pemerintah.

 

“Kami menghimbau kepada pemerintah untuk menyempurnakan proses pencampuran solar dan FAME agar meminimalisir efek samping yang ditimbulkan bagi kendaraan,” kata Santiko.

 

Penulis: Arieffandi

Tinggalkan Balasan