PTWI Berharap Kemenhub Revisi Peremajaan Bus Dari 10 Tahun Menjadi 15 Tahun

“Kalau peremajaan 10 tahun lalu kerja keras kita tujuh tahun, berarti waktu menikmati hasil hanya tiga tahun, lalu tahun ke-10 kita harus mulai melakukan peremajaan unit, ini sangat berat. Jadi kami harap sedikit perpanjang menjadi 15 tahun,” ucap Yuli.

Perkumpulan Transportasi Wisata Indonesia Rayakan HUT ke-2

MobilKomersial.com – Perkumpulan Transportasi Wisata Indonesia (PTWI) baru saja melangsungkan anniverasrynya yang ke 2. Gelaran yang dilangsungkan di BSD, Tangerang ini turut hadir, Direktur Angkutan dan Multimoda, Ahmad Yani, ATD,.MT ,  Sekjen DPP Organda, Ir. Ateng Aryono, MBA, Dirjen Keselamatan, M. Risal Wasal ATD,MM dan Ketua Umum IPOMI, Kurnia Lesani Adnan.

.

Selama dua tahun berdirinya, PTWI menjadi wadah sarana komunikasi sekaligus menampung dan juga mengakomodir perusahaan otobus pariwisata dalam menjalankan bisnisnya. Ketika pertama saat didirikan, anggota yang terdaftar hanya 19 PO Otobus, seiring dengan berjalannya waktu, anggota yang terdaftar sudah sekitar 25 PO. Otobus dari seluruh Indonesia.

.

PTWI hadir selain menjembatani komunikasi aktif serta bersinergi juga dengan instansi-instansi terkait, khususnya Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata, dan juga Kepolisian Republik Indonesia.

“Kami Berkumpul disini merayakan HUT Ke-2 PTWI sekaligus meminta dukungan berbagai pihak terkait . Ini kali pertama kita bikin acara kumpul seperti ini, sekaligus jadi ajang kami berkomunikasi dengan pemerintah. PTWI juga masih perlu bimbingan dari berbagai pihak terkait agar kami dapat melayani konsumen kami dengan baik” ujar Yuli Sayuti selaku ketua umum PTWI.

Dalam kesempatan tersebut, PTWI meminta Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) untuk merevisi waktu peremajaan bus. Dari sebelumnya 10 tahun menjadi 15 tahun. Hal ini disampaikan Ketua Yuli Sayuti, dalam pidatonya.

“Income penghasilan transportasi wisata tidak seglamor dengan nama pariwisatanya. Tantangan terberat adalah saat memulai investasi, kita membutuhkan modal yang cukup besar, minimal 20-25 persen sebagai tanda jadi dari total masa kendaraan, jadi jika pemerintah kasih waktu 10 tahun ini sangat berat,” ujar Yuli lebih lanjut.

Waktu 10 tahun tidak akan cukup untuk mengembalikan keuntungan perusahaan. Karena bila dihitung dari cicilan kendaraan, pengeluaran tenaga, serta ditambah perawatan dan segala macam, maka hitungan kerja keras PO bus itu mencapai tujuh tahun. Belum lagi ditambah dengan bisnis pariwisata yang tidak selalu ramai setiap harinya.

“Kalau peremajaan 10 tahun lalu kerja keras kita tujuh tahun, berarti waktu menikmati hasil hanya tiga tahun, lalu tahun ke-10 kita harus mulai melakukan peremajaan unit, ini sangat berat. Jadi kami harap sedikit perpanjang menjadi 15 tahun,” ucap Yuli.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Angkutan dan Multimoda Kemenhub Ahmad Yani, berjanji akan berusaha untuk memperjuangkan 15 tahun masa peremajaan untuk bus pariwisata. Namun sebelumnya, pengusaha PO bus wajib melakukan regulasi baru yang akan ditetapkan, yakni mengenai keselamatan.

“Saya akan berusaha untuk memperjuangkan dengan syarat teman-teman PO bus melaksanakan kebijakan Permenhub 85 tahun 2018 tentang Sistem Manajemen Keselamatan (SMK) Perusahaan Angkutan Umum. Melalui kebijakan itu, nanti semua akan diatur termasuk mengaudit kesiapan perusahaan untuk mencegah terjadinya kecelakaan seberti yang beberapa waktu lalu menelan korban jiwa,” ucap Yani di waktu yang sama.

Hits: 233

Tinggalkan Balasan