Pemkot Malang Evaluasi Operasional Bus Sekolah dan Angkutan Online

Malang, MobilKomersial.com – Wali Kota Malang H. Sutiaji akan mengkaji kembali operasional bus sekolah dan angkutan online di Kota Malang. Hal itu diungkapnya setelah menerima pengurus Organda Malang Raya di ruang kerjanya di Balai Kota Malang, Rabu (26/12).

Menurutnya, hal yang berkaitan dengan transportasi orang di jalan raya, sudah diatur dalam PP nomor 74 tahun 2014. Peraturan tersebut juga berkaitan dengan manajemen transportasi daerah.

“Berdasarkan aturan tersebut, tidak menutup kemungkinan segala bentuk transportasi yang ada bisa ditangani masing-masing daerah. Kami juga harus cek kondisi di lapangan sehingga bisa dikaji ulang,” kata Sutiaji.

Terkait masalah angkutan online, Sutiaji mengaku, pihaknya hanya terkena imbas. Sebab, beberapa kali, aturan Permenhub diganti. Pihaknya berjanji akan memberikan solusi yang terbaik untuk semua pihak. Sehingga, baik angkutan kota, transportasi online hingga bus sekolah bisa berjalan secara maksimal.

“Kami akan memberikan solusi supaya semuanya tetap berdaya dan yang lainnya tidak merasa terusik. Untuk bus sekolah, mereka juga meminta kami untuk melakukan evaluasi. Ya, kami akan evaluasi,” jelasnya.

Sekretaris Organda Malang Raya, R. Purwono Tjokro Darsono mengungkapkan, pihaknya ingin mendapatkan solusi bagaimana nasib angkutan kota di Malang Raya. “Alhamdulilah, kami mendapatkan tanggapan bijak. Pihak Pemkot Malang akan melakukan kajian dan pendekatan supaya angkutan kota bisa tetap eksis di Malang,” terang.

Saat ini, jumlah angkutan kota di wilayah Malang Raya cukup banyak, yakni sekitar 1.500 hingga 1.600 armada. Namun, jumlah tersebut tidak sebanding dengan jumlah penumpang yang menggunakan jasa angkutan kota. Saat ini masyarakat lebih banyak menggunakan angkutan online.

“Selain itu, ada juga bus sekolah. Ketika peluncuran awal, mereka membatasi 5 bus saja. Ternyata ada tambahan 9 mobil elf. Tentunya hal ini menggerus pendapatan angkutan kota,” kata anggota DPRD Kota Malang ini.

Sejauh ini, yang menjadi tumpuan pendapatan angkutan kota bukan hanya dari masyarakat umum saja. Namun, ada pada pelajar.

“Kalau dulu, satu angkutan bisa membawa sekitar 10 sampai 20 pelajar per hari. Saat ini paling banyak lima orang. Penurunan yang cukup fantastis,” papar dia.

 

Sumber : Malang-post.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.