Jakarta, MobilKomersial.com – Setelah tiga tahun berjalan, penyelesaian masalah truk Over Dimension Over Loading (ODOL) masih berlarut-larut. Bila mengacu data Korlantas Polri, sepanjang 2019 terjadi 1,3 juta pelanggaran lalu lintas dan 10 persennya adalah karena ODOL atau sekitar 136.000 kasus. 

Prosentase pelanggaran kelebihan muatan sekitar 37,87% lebih banyak dari over dimension yang hanya 2,45%. Sedangkan di tahun 2020, kasus kecelakaan yang disebabkan oleh ODOL mencapai 90 kasus. 

Baca juga: ODOL Kembali Marak, Aptrindo: Pemilik Barang Juga Perlu Ditindak dalam Kasus Over Load

Terkait banyaknya kasus kecelakaan akibat over loading, Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono, menuturkan bila realitas truk ODOL di Indonesia sudah lama terjdi dan telah mendarah daging. 

”Dulu, ODOL lama dibiarkan tanpa penindakan, jadi kalau sekarang ingin memberantas ya perlu waktu. Apapun statistiknya, kecelakaan akibat ODOL cukup meningkat. Pemerintah sedang menggalakkan operasi ODOL saat ini. Kami harap di tahun ini bisa berkurang,” kata Soerjanto kepada MobilKomersial.com, Kamis (22/1/2021). 

Menurut Soerjanto, over loading kendaraan dapat menyebabkan kecelakaan, terutama meningkatkan risiko rem blong. Karena overload, kata Soerjanto, rem truk jadi panas dan akhirnya blong. 

Baca juga: Kacau, Truk ODOL Malah Menjamur Saat Wabah Corona

”Tidak semua truk over loading itu pasti kecelakaan, tapi dengan over loading, hazard kecelakaan jadi naik. Tujuan kami melakukan investigasi adalah mengurangi hazard kecelakaan dan kalau bisa menghilangkan,” jelasnya. 

Meski pihaknya mengakui bila ODOL memiliki kontribusi terhadap kecelakaan. Namun, Soerjanto melihat banyak kemungkinan faktor penyebab kecelakaan selain over loading, seperti pengecekan uji berkala. 

Soerjanto mengaku kerap menemukan sambungan selang-selang angin rem pada truk hanya diikat kawat. 

Baca juga: Nekat Masuk Tol Cipali, 1.900 Truk “ODOL” Ditertibkan

”Ikatan kawat di selang rem itu mudah lepas. Selain itu selang-selang itu banyak tambal sulamnya. Sehingga ketika angin habis kendaraan jadi rem blong. Ini yang juga perlu ditindaklanjuti,” tegas Soerjanto. 

Terkait faktor uji berkala, Soerjanto mengaku saat ini pihaknya sedang mengevaluasi uji KIR. Karena, menurut dia, sekarang banyak uji KIR yang tutup karena tidak lolos akreditasi. 

 

(Denny)

Share :

Berikut Deretan Truk Ukraina yang Kemungkinan Bakal Dipasarkan di Indonesia

Deretan truk dari Ukraina yang diprediksi bakal dijual di Indonesia.

Read More
Truk Renault T High 520s Diminati Perusahaan Logistik di Eropa, Kenyamanan Jadi Kunci

Bulk Haulage, menjajal keandalan truk Renault T High 520s.

Read More
Kabin Truk Seri R dan S Diperpanjang 27 Cm, Ini Penjalasan Scania

Scania bakal memperpanjang kabin seri R dan S.

Read More